MEDIABERITA, JEMBER – Sutradara film Lobang Buaya, Hanung Bramantyo mengajak masyarakat untuk mempertanyakan kembali siapa dalang dari Gerakan 30 September (G30S) pada 1965 silam.
Pemerintah Orde Baru menggambarkan peristiwa kelam itu dalam sebuah film berjudul ‘Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI’ yang menyebut dalang peristiwa kelam itu adalah Komunis.
“Terlepas bahwa itu adalah Komunis atau Non-Komunis, peristiwa itu adalah peperangan ideologi, ideologi Timur dan Barat, ideologi yang ada di puncak perang dingin pada 1990-an, kebetulan perang dingin itu dimenangkan blok Barat atau kapitalis, sehingga mereka para kapitalis membuat narasi bahwa Komunis itu jahat, Komunis itu atheis, Komunis itu menolak Tuhan dan lain sebagainya,” kata Hanung usai Special Screening film Lobang Buaya yang digelar Adhya Pictures dan Dapur Film bersama Program Studi Televisi dan Film Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember di Kota Cinema Mall, Minggu, 20 September 2026.
Namun faktanya, lanjut Hanung, negara China dan Rusia yang berpaham Komunis, justru tidak seperti yang digambarkan oleh blok Barat.
“China dan Rusia yang Komunis, justru mau memberikan kekayaannya dan juga swasembadanya, jadi siapa yang salah selama ini, apakah yang salah adalah Komunis atau blok Barat itu kita belum tahu. Tetapi di Indonesia masih berhenti bahwa dalang peristiwa 1965 itu dalangnya hanya tunggal yakni Komunis, nah ini lah yang kita berikan pemahaman bahwa tolong jangan percaya begitu saja terhadap propaganda pemerintah, tetapi kita sebagai anak bangsa harus melek literasi. Sudah banyak sekali tayangan dan buku yang mengupas peristiwa 1965 dari sisi yang berbeda,” lanjut Hanung.
Akibat pemutaran film G30S pada setiap bulan September, akhirnya menjadikan luka lama sebagai komoditas politik.
“Luka lama itu kemudian dijadikan komoditas politik untuk menyerang lawan dalam kontestasi Pilkada hingga Pilpres, yakni dengan memberi label Komunis pada rival politik. Kalau begitu kita belum move-on dari narasi yang dibangun oleh pemerintah, oleh Barat. Padahal Barat sudah berkembang, bumi berkembang sampai saat ini, jadi itu sebenarnya tujuan saya membuat film ini,” terang Hanung.
Hanung kemudian menyebut Lobang Buaya ini sebagai film drama misteri investigasi. Menurutnya, label tersebut lebih tepat karena film ini diklaim lebih dari sekadar horor. Ia juga mengaku telah menyisipkan beberapa plot twist untuk memancing retensi menonton hingga 100 persen.
“Nah kali ini di film Lobang Buaya, saya berbicara tentang dua hal, yakni peristiwa 1965 sebagai sebuah tragedi nasional, dan para koruptor yang tergabung dalam 7 setan desa,” ungkapnya.
Untuk diketahui, film Lobang Buaya ini bisa ditonton di Bioskop kesayangan Anda mulai 01 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila.
