Menara Sinyal di Sumbar & Sumut Kembali Beroperasi, Pemulihan Lebih dari 90%


Foto: RRI

MediaBerita – Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh pada akhir November 2025 tidak hanya menimbulkan kerugian fisik dan korban jiwa, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur telekomunikasi. Ribuan Menara pemancar operator seluler setempat tidak berfungsi, menghambat komunikasi warga dan koordinasi penanganan darurat.

Menteri Komunikasi dan Digital (MenKomdigi), Meutya Hafid, menyampaikan bahwa pemulihan layanan komunikasi menjadi prioritas utama pemerintah. Hal ini penting agar masyarakat dapat kembali berkomunikasi mengakses informasi dan mematikan koordinasi penanganan bencana berjalan lancar.

Proses Pemulihan di Sumatra Barat dan Sumatra Utara

Menurut laporan resmi, lebih dari 90% persen menara pemancar di Sumatra Barat dan Sumatra Utara telah kembali beroperasi. Di Sumatra Barat, tingkat pemulihan mencapai 95%, sementara di Sumatra Utara mencapai 90%. Peningkatan ini menunjukkan progres signifikan dalam waktu singkat, dengan skala kerusakan yang terjadi.

Meutya juga menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kerja sama intensif antara pemerintah, operator seluler dan PLN.

“Pemerintah bersama operator dan PLN terus bekerja agar layanan segera normal kembali,” sampai Meutya dalam rapat koordinasi di Medan.

Baca Juga: Hutan Indonesia Habis, Bencana Menunggu di Depan Mata

Listrik Jadi Kendala Utama di Aceh

Berbeda dengan Sumbar dan Sumut, kondisi di Aceh masih menghadapi kendala besar. Sekitar 60% persen menara pemancar di provinsi belum beroperasi akibat gangguan pasokan listrik. Dari total 2.804 menara yang terdampak di tiga provinsi, 1.969 diantaranya berada di Aceh.

Pemerintah menargetkan pemulihan signifikan dalam empat hari kedepan seiring percepatan perbaikan pasokan listrik oleh PLN. Untuk mempercepat proses, pemerintah juga melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pengiriman material perbaikan ke daerah-daerah yang sulit terjangkau.

Ribuan Menara Sempat Lumpuh

Data Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat bahwa per 1 Desember 2025 pukul 00.00 WIB, total menara pemancar yang mengalami gangguan mencapai 2.804 unit. Rinciannya adalah 1.969 menara Aceh, 681 menara di Sumatra Utara dan 154 menara di Sumatra Barat.

Kerusakan masif ini menunjukkan berapa rentannya infrastruktur telekomunikasi terhadap bencana alam. Kedepan, Indonesia perlu membangun sistem yang lebih tanggung agar komunikasi tetap terjaga meski bencana melanda.

Operator Seluler Berikan Diskon Tarif dan Masa Aktif yang Diperpanjang

Selain pemilik teknis, operator seluler juga menunjukkan kepedulian sosial. Mereka memberikan diskon tarif dan perpanjangan masa aktif bagi pengguna di wilayah terdampak. Langkah ini diapresiasi di wilayah terdampak. Langkah ini diapresiasi MenKomdigi sebagai bentuk nyata dukungan terhadap masyarakat.

Kebijakan ini bukan hanya meringankan beban warga, tetapi juga memastikan mereka tetap bisa terhubung dengan keluarga dan layanan darurat.

Komunikasi Menjadi Peran Vital Dalam Penanganan Bencana

Dalam situasi darurat, komunikasi bukan sekedar fasilitas, melainkan kunci dalam menghubungkan setiap lini dalam penanganan bencana. Informasi yang cepat dan akurat dapat menyelamatkan nyawa, mempercepat distribusi bantuan dan mengurangi kepanikan.

Meutya mengimbau masyarakat untk memanfaatkan kanal resmi pemerintahan, seperti https://s.id/TanggapBencanaSumatra, agar tidak terjebak informasi palsu yang bisa memperburuk keadaan.

Sinergi Lintas Sektor Menjadi Kunci Pemulihan

Keberhasilan pemulihan di Sumbar dan Sumut adalah bukti nyata sinergi lintas sektor. Pemerintah, operator, PLN, dan TNI bekerja bahu membahu untuk mengembalikan layanan komunikasi. Kolaborasi ini menjadi model penanganan bencana yang bisa ditiru di masa depan.

Baca Juga:  Komuniikasi Lumpuh di 1.310  Titik  Akibat Banjir Aceh-Sumatra 

Infrastruktur yang Lebih Tanggung Menjadi Harapan di Masa Depan

Bencana di Sumatra menjadi pelajaran penting bahwa infrastruktur telekomunikasi harus lebih tahan terhadap cuaca ekstrem. Pemerintah diharapkan mendorong investasi pada sistem cadangan energi, menara tahan bencana dan jaringan alternatif.

Dengan langkah ini, masyarakat tidak lagi terputus dari informasi saat bencana melanda. Komunikasi yang terjaga akan memperkuat ketahanan sosial dan mempercepat pemulihan.

Sinyal Komunikasi menjadi Jalur Penghubung Antar Lini

Pemilihan sinyal di sumatra yang mencapai lebih dari 90% adalah capaian penting di tengah krisis. Meski Aceh masih menghadapi tantangan, optimisme tetap tinggi bahwa keadaan akan segera normal.

Bencana memang tidak bisa dihindari, tetapi dengan komunikasi yang pulih, masyarakat bisa kembali bernafas lega.Sinyal yang kembali menguatkan bukan sekedar teknologi, melainkan kebutuhan untuk menghubungkan setiap individu.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News

(dim/sa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *