Budidaya Maggot Jadi Alternatif Pakan Ikan untuk Warga Mulyaharja



BOGOR — Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan (IKN), Sekolah Vokasi IPB University, mengadakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) di Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membudidayakan maggot sebagai salah satu alternatif pakan ikan.

Pemanfaatan maggot diharapkan dapat membantu pembudidaya mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang harganya relatif tinggi. Selain berpotensi menjadi sumber protein bagi ikan, budidaya maggot juga dapat memanfaatkan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar.

Dalam pelatihan tersebut, dosen Program Studi IKN menjelaskan teknik budidaya maggot, termasuk peralatan dan bahan yang dibutuhkan. Budidaya dimulai dari penetasan telur maggot (Black Soldier Fly/BSF). Telur yang menempel pada media peneluran dipindahkan ke wadah penetasan yang berisi media, seperti dedak atau bekatul, dan dapat dicampur dengan bahan organik sesuai kebutuhan. Wadah ditempatkan di area yang terlindung dari paparan sinar matahari langsung dan hujan.

“Setelah menetas, larva maggot dipelihara terlebih dahulu dengan pakan bertekstur halus. Ketika ukurannya sudah cukup besar, larva dipindahkan ke wadah pembesaran dan diberi bahan organik yang telah dicacah. Jumlah pakan disesuaikan dengan pertumbuhan larva,” jelas Dr. Imam Tri Wahyudi, S.Pi., M.Si., dosen Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB University (9/10/2026).

Dr. Imam juga menjelaskan bahwa maggot dapat dibudidayakan dengan memanfaatkan limbah organik pertanian. “Bahan seperti sisa sayuran, buah, dan limbah organik pertanian dapat dimanfaatkan sebagai media atau pakan larva. Dengan menggunakan bahan yang tersedia di sekitar, budidaya maggot berpeluang dilakukan dengan biaya yang relatif terjangkau dan tidak selalu membutuhkan modal besar,” ujarnya.

Dr. Andri Hendriana, M.Si., menambahkan bahwa maggot berpotensi menjadi pakan alternatif karena kandungan proteinnya. “Maggot memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan alternatif ikan. Penggunaannya dapat membantu menekan biaya pakan komersial yang relatif mahal, dengan tetap memperhatikan kebutuhan nutrisi ikan dan proporsi pemberiannya dalam ransum,” jelasnya.

Sheny Permatasari, M.Si., dosen Program Studi IKN, menekankan pentingnya menyesuaikan pakan dengan kebutuhan ikan pada setiap tahap pemeliharaan. “Pertumbuhan ikan dipengaruhi oleh kualitas dan keseimbangan nutrisi dalam pakan. Maggot dapat menjadi salah satu sumber protein, tetapi penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ikan dan dikombinasikan dengan bahan pakan lain secara tepat,” ujar Sheny.

Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan dapat mengolah limbah organik menjadi sumber daya yang lebih bermanfaat sekaligus mempertimbangkan maggot sebagai alternatif untuk mendukung efisiensi biaya pakan. Peserta juga diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya secara mandiri, baik di rumah maupun melalui kelompok pembudidaya, serta mengembangkannya sebagai peluang usaha.

Pendampingan lanjutan dan penerapan teknik budidaya yang tepat diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan limbah organik di lingkungan sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *