MEDIABERITA, SURABAYA – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) lolos sebagai finalis Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 melalui gagasan pengembangan mikroalga sebagai bahan baku energi hijau.
Melalui program Algae Archipelago 2045, mereka mengusulkan jaringan koridor industri mikroalga pesisir yang terintegrasi untuk mendukung Indonesia menjadi pemasok energi hijau dunia.
Tim Algae Archipelago resmi lolos pada Rabu (14/10/2026) melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Tertulis (PKM-GFT). Gagasan yang mereka usung berjudul “ALGAE ARCHIPELAGO 2045: Jaringan Koridor Industri Mikroalga Pesisir Terintegrasi untuk Menjadikan Indonesia Pemasok Energi Hijau Dunia”.
Tim tersebut terdiri atas Iqlima Abdul Rokhim dan Shofarul Khoiriyah dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), serta Jamie Fransisco Purba dari Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM). Mereka mengembangkan gagasan tersebut bersama dosen pendamping Annur Ahadi Abdillah, S.Pi., M.Si., Ph.D.
Fokus utama gagasan ini adalah pemanfaatan mikroalga sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF), atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Sektor penerbangan masih menghadapi tantangan untuk beralih dari bahan bakar konvensional, sementara pengembangan SAF membutuhkan pasokan bahan baku yang memadai.
Iqlima menjelaskan, mikroalga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu sumber bahan baku energi tersebut.
Menurut dia, pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan biomassa, tetapi juga mendukung penyediaan energi hijau.
“SAF bisa menjadi salah satu alternatif bahan bakar yang lebih berkelanjutan. Kami melihat mikroalga berpotensi menjadi bahan baku yang dapat dikembangkan untuk mendukung kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Dalam konsep Algae Archipelago, tim merancang jaringan koridor industri yang menghubungkan sumber daya pesisir, pemanfaatan limbah, pengolahan biomassa, hingga distribusi bioenergi.
Limbah kaya nutrien dari agroindustri dan karbon dioksida (CO₂) dari kegiatan industri diusulkan sebagai input untuk membantu pertumbuhan mikroalga.
Namun, pemanfaatan limbah tersebut memerlukan pemeriksaan sebelum digunakan. Kandungan nutrien perlu diketahui untuk memastikan kesesuaiannya, termasuk mengidentifikasi kemungkinan kontaminan atau zat toksik yang dapat menghambat pertumbuhan mikroalga.
“Limbah nutrien perlu diuji terlebih dahulu untuk mengetahui kandungannya. Termasuk kemungkinan kontaminan atau zat toksik yang dapat menghambat pertumbuhan mikroalga,” kata Iqlima.
Setelah melalui proses kultivasi dan pemanenan, biomassa mikroalga direncanakan diolah di fasilitas biorefinery untuk menghasilkan bioenergi.
Agar rantai pengolahan tersebut dapat terhubung, tim mengusulkan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), agroindustri, industri penghasil CO₂, badan usaha milik negara (BUMN), serta lembaga pembiayaan.
Meski demikian, gagasan tersebut masih membutuhkan kajian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan. Salah satu aspek yang perlu diteliti adalah pemilihan spesies mikroalga yang sesuai, termasuk pengujian pemanfaatan limbah sebagai sumber nutrien.
Iqlima mengatakan, tim belum menetapkan satu spesies mikroalga tertentu karena masih diperlukan penelitian untuk menentukan jenis yang paling tepat bagi pengembangan bahan bakar.
Ia berharap Algae Archipelago dapat dikembangkan lebih lanjut hingga mendukung penyediaan energi berkelanjutan.
“Harapannya, Algae Archipelago bisa terealisasi dan mendukung energi hijau dunia. Jargon kami, From Microalgae to Global Energy, From Indonesia to the World,” tuturnya.
Iqlima juga mendorong mahasiswa untuk berani mengikuti kompetisi dan mengembangkan gagasan berdasarkan persoalan yang dijumpai di lingkungan sekitar.
Menurut dia, sebuah gagasan tidak harus sempurna sejak awal, tetapi perlu dimulai dan dikembangkan melalui proses belajar.
“Kita tidak harus punya ide sempurna terlebih dahulu. Yang penting berani memulai dan mau terus belajar,” katanya.
Catatan redaksi: Naskah telah disusun dengan menonjolkan nilai berita pada capaian mahasiswa UNAIR dan gagasan pemanfaatan mikroalga untuk bahan bakar penerbangan.
Klaim mengenai potensi mikroalga tetap ditempatkan sebagai gagasan yang memerlukan penelitian lanjutan, bukan sebagai teknologi yang telah terbukti siap diterapkan.
